Perkembangan Momo

Tahun ini usia Momo sudah lima tahun. Tidak terasa ya, kayaknya baru kemarin dia masih bayi mungil yang baru belajar mengangkat kepala. Sekarang sudah menjadi gadis kecil yang pintar dan manis.

Dari bayi, Alhamdulillah perkembangan Momo selalu sesuai dengan standar tumbuh kembang anak. Berguling bolak balik di usia 4 bulan, duduk di usia 6 bulan, merangkak di usia 7 bulan, dan berjalan di usia 11 bulan. Mulai bisa merangkai kalimat 2-4 kata di usia sekitar 2 tahun (tentu dengan pengucapan khas bocah yang mungkin hanya emaknya yang bisa langsung mengerti). Momo juga sudah bisa naik sepeda roda dua menjelang umur 4 tahun. Sangat-sangat patut disyukuri karena Momo bayi sangat susah makan. Jangankan makan, menyusui saja bukan yang; gencar. Diagram berat WHO adalah musuh besarku. Makanya, bersyukur juga sampai sekarang berat dan tingginya ternyata masih terhitung normal dibandingkan dengan anak-anak sesusianya (meski masih terhitung langsing dan bukan yang tinggi menjulang).

Semakin besar, kelihatan sifat Momo yang sensitif. Dia tidak suka ditertawakan, meski orang lain maksudnya hanya tertawa gemas karena tingkah-lakunya. Tapi dia mau menyampaikan ketidaksukaan dia. Atau menyampaikan hal-hal yang membuat dia tidak nyaman. Kalau waktu sekolah offline dulu, kelihatannya dengan teman yang kurang dikenal, dia kurang berani menyampaikan pendapat langsung. Jadi, dia menyampaikan ke gurunya jika ada teman yang membuatnya tidak nyaman. So far, aku melihat dia mirip-mirip dengan orangtuanya, bukan yang langsung bisa mingle dengan orang lain. Harus ada waktu adaptasi dulu sampai benar-benar “cair”. Tapi dia sebenarnya cukup berani lho, di hari pertama sekolah, dia sudah bisa langsung ditinggal pergi tanpa ditemani (mungkin karena gurunya juga membuat ia merasa nyaman).

Sebelum usia 5 tahun, Momo tiba-tiba bisa membaca dan menulis sendiri. Aku memang mengajarinya sedikit-sedikit, tapi tidak pernah terlalu serius dan rutin karena aku merasa anaknya belum benar-benar bisa menangkap. Tapi suatu hari, dia jadi sering membaca buku sendiri (waktu itu aku baru hamil, jadi masih mabuk sekali dan tidak punya cukup tenaga untuk menemani Momo bermain). Dia sering menanyakan cara baca ini-itu, eh tau-taunya dia jadi lancar membaca buku sendiri. Yang lebih mengejutkan buatku, kemampuan membaca dia datang sepaket dengan kemampuan menulis. Padahal aku hanya sesekali mengajarkan menulis. Memang sampai sekarang beberapa huruf masih suka terbalik, atau salah eja. Tapi secara keseluruhan, kemampuan menulis dadakan dia cukup baik. Malah Momo sudah pandai menulis surat untuk kedua orangtuanya. Hmm, sejujurnya aku merasa kalau membaca dan menulis itu ga perlu cepat-cepat sih. Toh katanya usia yang baik untuk belajar menulis membaca kan pas sudah SD ya. Tapi kalau anaknya yang inisiatif sendiri begini, ya Alhamdulillah saja ya. Tinggal diarahkan supaya dia tidak membaca buku-buku yang bukan porsi usia dia.

Momo juga suka menggambar. Terutama menggambar dirinya dan keluarga. Yang unik dari gambar Momo adalah dia suka menambahkan detail-detail seperti di pakaian (renda, garis, motif), di pernak-pernik, dan lain-lain. Tapi, Momo belum mau mewarnai dengan penuh gambar yang ia buat. Selain itu, Momo lebih suka menggunakan spidol saat menggambar. Padahal, di rumah ada krayon, silky crayon, cat air, dan pensil warna. Momo juga suka kegiatan crafting seperti menggunting dan menempel untuk membuat suatu karya.

Saat ini, Momo sedang sangat menyukai permainan kartu; mulai dari kartu uno, kartu monopoli, dan berbagai card game lain yang dibelikan oleh ayahnya. Ini juga kadang membuat kami terkaget-kaget karena tidak menyangka juga dia cukup bisa mengerti aturan dalam permainan kartu ini… malah dia terkadang menang melawan ayah ibunya! Memang sih ternyata permainan kartu ini cukup bermanfaat juga untuk anak-anak: Momo bisa belajar warna, bentuk, hitung-hitungan dasar, dan strategi. Juga bisa mengajari anak tentang mengelola emosi saat kalah dan menang. Tentu saja kalau kalah, Momo sering ngambek. Tapi dengan dijelaskan pelan-pelan, dia mulai mengerti kalau kalah itu tidak mengapa, bahwa kita tidak bisa selalu menang.

Rasanya sekian dulu yang ingin aku ceritakan tentang perkembangan Momo dalam lima tahun kehidupannya. Sebagai ibu, aku cuma berharap semoga dia tumbuh menjadi anak yang selalu sehat, punya attitude yang baik, mandiri, dan mencintai dirinya sendiri. Semoga ibu juga bisa terus mendampingi dengan sabar dan konsisten tentunya. Aamiin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s