Si Anak Baik

Momo, si anak gadis sulungku. Anak yang baik dan lembut hatinya. Walau pun kadang susah makan dan susah disuruh tidur, tapi selama lima tahun ini dia adalah anak yang sangat baik, sangat mandiri.. Pokoknya Momo itu berkah Allah untuk ibu yang kurang sabar kayak saya. Daripada dia yang belajar dari saya, jauhhh lebih banyak saya yang belajar dari Momo. Malah kayaknya saya yang makin banyak mengenal diri sendiri sejak punya Momo.

Kadang saya juga melihat cerminan diri saya ketika melihat tingkah-laku Momo. Ketika melihat dia cukup sensitif kalo saya pake nada agak tinggi, saya ingat diri sendiri yang juga gampang tersinggung untuk hal-hal kecil. Melihat dia berkeras tentang suatu hal, saya ingat saya yang juga suka keras kepala, bahkan kadang untuk hal yang saya jelas-jelas salah. Dan banyaakkkk hal lain yang kadang membuat saya kesal, tapi ketika dipikir-pikir.. Dia sebenarnya cuma mencontoh kelakuan orangtuanya saja. Bagaimana saya (dan suami) mau menasehati dia sesuatu kalau kami sendiri masih belum bisa memberikan contoh yang baik?

Meski pun demikian, saya takjub juga betapa anakku ini sangat perhatian kepada kedua orangtuanya, dan kadang menyikapi sesuatu dengan cara ‘dewasa’. Dia baru lima tahun tapi udah benar-benar banyak memberikan contoh untuk kami, kedua orangtuanya.

  • Dia selalu ingin berbagi, terutama dengan ayahnya. Misalnya ketika saya kasih cemilan yang jumlahnya sebenarnya tidak banyak, tapi dia sering menyisakan sebagian untuk ayahnya tanpa diminta (padahal dia juga sangat suka cemilannya)
  • Kalau misalnya saya dan suami sedang berdebat dengan nada agak tinggi, dia sering menengahi dengan bilang “Ayah, ibu.. Ayo diskusi dulu yang baik terus baikan” atau “ayo ibu ayah salaman, pelukan.. Udah udah”. Langsung krenyesss.. Ya Allah ini orangtuanya egois juga ya bertengkar di depan anak kayak gini. Huhu. Tapi kita selalu ensure untuk minta maaf sama Momo, dan kita selalu bilang kalo habis berselisih, yang penting harus dibicarakan baik-baik, saling minta maaf, dan berbaikan kembali (berharap dengan penjelasan seperti ini tidak membuat dia takut atau trauma dengan pertengkaran).
  • Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, kalau saya lagi kelihatan capek dan sakit, dia sering elus-elus kepala saya. Lalu mengambilkan minuman, menyelimuti saya, pokoknya supaya saya merasa lebih nyaman. Atau dia menari-nari atau memasang ekspresi lucu supaya saya terhibur. Saya kadang ngga enak juga sama dia kalo pas ngga enak badan, jadi saya minta maaf ngga bisa banyak ngajak main. Jawaban dia : “Gapapa, kan namanya ibu hamil. Ibu istirahat aja”. Pernah juga pas videocall akung utinya, ibu ketiduran. Terus dia bilang, pas ibu ketiduran, Momo kecilin volume suaranya supaya ibu tidak terganggu.

Ya Allah, sungguh aku merasa beruntung sekali menjadi Ibu Momo. Sampai sering bertanya, aku teh udah berbuat apa sampai dikasih anak sebaik ini.. Perasaan aku teh banyak bangettt kurangnya, banyak banget kejelekannya. Sungguh Momo itu anugrah, penghibur banget untuk ibu dan ayahnya. Sekaligus pengingat untuk menjadi orangtua yang lebih baik, yang bisa selalu menjadi role model meski pun kami tidak akan mungkin sempurna. Benar-benar berharap semoga sebagai orangtua, aku bisa mendidik dia sampai menjadi orang dewasa yang selalu bersyukur pada Allah, jadi manusia utuh yang bisa menghargai dirinya sendiri dan makhluk ciptaan Allah lainnya. Aamiin aamiin Ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s